This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

Senin, 03 Desember 2012

Mendobrak “ Pintu Kecerdasan “ Memahami Ilmu Nahwu


Oleh : Misbahuddin Al-Afhganie

            Semua bisa disederhanakan,  tergantung cara berfikir kita ( Frame work ) dalam memahami segala sesuatu. Ilmu nahwu sebagai salah satu bagian dari uslub bahasa Arab yang unik bin menarik.  Merenkontruksi cara penyajian ilmu nahwu  tuk disampaikan kepada para tholabul ilmi sangatlah urgen, agar mudah dicerna dan dipahami.

            Pondasi utama untuk “ mendobrak pintu kecerdasan “  tuk memahami ilmu nahwu, adalah dengan memahami pembahasan pokok dalam dalam ilmu nahwu. pembahasan pokok dalam ilmu nahwu  adalah tiga hal. pembahasan huruf, kalimat dan jumlah. 3 hal inilah yang menjadi kerangka dasar tuk memahami ilmu nahwu lebih dalam dan lebih nikmat.

            Huruf, kalimat dan jumlah adalah pembahasan yang pertama dan utama yang harus dipahami. jangan melanjutkan mempelajari ilmu nahwu jika hal tersebut belum dipahami. antum harus memahamkan diri secara “ kaaafah “ pembasan tersebut. kenapa eh kenapa???. karena dari pembahasan inilah kita berpijak. ini lah pondasi awal pemahaman. jika hal tersebut sudah dipahami insaallah kesannya mudah. ^_*

             Ilmu Nahwu tidak akan lari dan tiga hal tadi. yup!. mari merenung sejenak. ilmu nahwu tidak akan lari pembahasanya dari tiga hal tadi, yaitu huruf, kalimat dan jumlah. hujamkan dalam hati. hal ini. ^_^

            Mindset yang harus dibangun selanjutnya, yaitu. pengertian huruf dalam bahasa arab sama dengan huruf dalam bahasa indonesia ( dengan perbedaan sedikit saja ). dan istilah kalimat dalam term uslub bahasa arab adalah kata dalam term bahasa indonesia. dan jumlah dalam term bahasa arab adalah kalimat dalam term bahasa indonesia. oke bisa dipahami?. ^_^ . huruf=huruf. kalimat= kata, jumlah = kalimat .

            Catat !!!, dalam hati, huruf = huruf, kalimat = kata dan jumlah = kalimat. itu sedikit perbandingan uslub bahasa arab dadengan tatabahasa indonesia. pemahaman ini yang harus dibangun sebelum kita berselancar lebih dalam di lautan luas tata bahasa arab.

            Mari kita bongkar lebih dalam. pembahasan-pembahasan yang pertama dan utama dalam ilmu nahwu.
1.       Huruf

Huruf adalah apa-apa yang menyusun sebuah kalimat. selanjutnya huruf ini terbagi dua, ada huruf ma’ani dan huruf mabanie.

Huruf mabanie adalah huruf hijaiyyah atau alpbatik. yaitu huruf-huruf  yang bisa membuat kalimat, contoh :
أب  - تث  
            kedua yaitu huruf Maanie, yaitu huruf-huruf yang telah mempunyai arti,  contoh
ثمّ : kemudian, أو : atau. من : dari.
Bisa membedakan mana huruf mabanie dan huru maa’nie ???. mari lihat perbedaannya. Jika huruf mabanie itu adalah huruf hijaiyyah biasa. dan tidak mempuyai arti. tetapi huruf maanie adalah gabungan dua huruf hijaiyyah dan memiki arti. seperti contoh diatas. untuk sementara pemahan itu dulu yang harus dibangun dan ditanamkan di dalam hati.

Selanjutknya pembahasan utama ( topic prominent ) ke 2  ilmu nahwu adalah ;

2.       Kalimat
Selanjutknya pembahasan utama  ( topic prominent ) ilmu nahwu yang kedua adalah kalimat. apa sih kalimat itu ??, pertanyaan yang bagus. kita mulai dari pengertian terlebih dahulu agar paradigma berfikirnya jelas dan tidak abu-abu.
Kalimat dalam bahasa arab, adalah kata dalam bahasa indonesia. yup. tanamkan dalam hati. dalam tata bahasa arab kalimat adalah : lafadz yang mempunyai arti., lafadz apa pun itu yang mempunyai arti itu adalah kalimat.  contoh
البَيْتُ  : Rumah, المَدْرَسَةُ : madrosah. يَكْتُبُ : menulis
Oke, berhenti sejenak ! sudah dimengerti sampai sini?. intinya lafadz apa saja yang mempunyai arti, kita bisa langsung menentukan dan memvonis lafadz tersebut adalah kalimat.
Kita gali lagi lebih dalam , kalimat dalam tata bahasa arab terbagi tiga. isim, fiil dan huruf.  kita bahas satu-satu ^_^

1)       Isim
Isim adalah kalimat yang mempunyai arti dan tidak berkaitan dengan waktu. jadi lafadz apa saja yang mempunyai arti dan tidak bisa dihubungkan dengan waktu maka kita simpulkan bahwa, lafadz tersebut adalah isim. contoh
بَيْتٌ : rumah. دَفْتَرٌ : buku.

Lafadz _ baitun_  itu adalah isim, kenapa??, karena, eh karena !!,  Lafadz _baitun_ mempunyai arti, yaitu : rumah. alasan kedua mengapa divonis isim, yaitu lafadz  _ baitun _ / rumah tidak bisa dikaitkan dengan waktu. 

Tanda-Tanda Isim

Untuk para pemula sangat penting untuk melakukan diagnosa awal ketika mendapatkan sebuah Lafadz arab. agar tidak galau untuk menentukan ini isim ataukah fiil. Maka harus dicamkan bahwa isim memilki tanda-tanda sebagai metode yang mudah agar mudah dikenali. yuk kita simak dan perhatikan tanda-tanda isim sebagai berikut.

1.       Khofad
Tanda khofad atau kasroh di dalam sebuah lafadz arab hal tersebut bisa dijadikan sebagai qorinah ( keterangan ) bahwa lafadz tersebut adalah isim. contoh
بِسْمِ اللهِ
lafadz _ bismi _ kita vonis dia isim, karena dia mempunyai tanda khofadz atau kasroh diakhirnya. “ jurus “ ini ( menentukan isim denga tanda khofadz diakhirnya ) dipergunkan ketika kita menemukan lafadz-lafadz yang asing dan kita tidak  tahu artinya.

2.       Tanwin
Tanwin dengan fathah, dhomah atau kasroh merupakan salas satu pertanda bahwa lafadz tersebut adalah isim. jika menemukan lafadz yang berharokat tanwain. antum jangan bimbang dan galau. langsung saja vonis lafadz tersebut adalah isim. contoh

مَسْجِدٌ ٫ بَابٌ
3.       Alif_Lam
Jika Menemukan Dalam Sebuah Lafadz Ada Tambahan _Aliflam_ Maka Jangan ragu untuk memvonis bahwa lafadz tersebut adalah isim. contoh
الحَمْدُ
Lafadz apapun itu, walaupun antum belum tahu artinya. antum bisa langsung memvonis tanpa sebuah keraguan bahwa lafadz tersebut adalah isim. okay ^_^

4.       Huruf jar
Tanda isim terakhir adalah jika dalam sebuah lafadz diawali dengan huruf jar  (  من٬إلى٬عن٬على٬فى٬ربّ٬كف٬ب٬الام ) maka jangan bimbang dan ragu untuk memvonis bahwa lafadz tersebut adalah isim. contoh
مِنَ البَيْتِ
Lafadz  _ bait_  kita langsung bisa menentukan bahwa lafadz tersebut adalah isim. kenapa ???, karena, eh karena !!,  lafadz tersebut mempunya tanda isim yaitu didahulu oleh huruf jar, yaitu lafadz _Min_

2)       fiil
 Fiil Adalah kalimat ( kata ) yang mempunyai arti dan tidak berkatian dengan waktu. contoh
كَتَب( menulis )
 يَقْرَأُ  ( sedangn atau akan membaca )

Kenapa lafadz _kataba_ dan _yaqrou _ divonis sebagai fiil???. karena eh karena. dua lafdz tersebut mempunya arti dan berkaitan dengan waktu. berkaitan dengan waktu, maksudnya jika lafadz itu dihubunkan dengan waktu, maka lafadz tersebut nyambung dan bisa dihubungkan dengan waktu. contoh, Jam berapa kamu membaca???. jam berapa kamu menulis. jadi kalimat _kataba _ dan yaqrou _ berkaitan dengan waktu.

Tanda-Tanda Fiil
Sebagaimana isim, fiil juga memilki tanda-tanda agar mudah dikenali, tanda-tandanya yaitu

1.        Diawali dengan lafadz _ قَدْ _ ( sungguh ). contoh
قَدْ قَامَتِ اللصَّلاَة
Lafadz _ قَامَتِ_ walaupun kita tidak tahu artinya, kita bisa langsung bisa memvonis dengan kepercayaan yang tinggi bahwa lafadz tersebut adalah isim. kenapa kita berani langsung memvonis????. karena, eh karena. lafadz _ قَامَتِ_ didahuli oleh lafaz _ قَدْ _.

2.       Didahului oleh huruf sin ( سَ )
Untuk tanda fiil yang kedua ini, harus hati-hati, kenapa?? karena tidak setiap lafadz yang awalnya sin itu adalah fiil. kuncinya antum  harus sering “ bercumbu “  dengan bahasa arab. agar bisa membedakan mana sin sebagai tanda fiil mana yang bukan .
contoh :
سَيَذْهَبُ  dia ( akan ) pergi :
                                 
3.       Diawali huruf saufa ( سَوْفَ )
contoh :
سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ
lafadz _ تَعْلَمُوْنَ _ dia adalah fiil karena diawali dengan lafadz _ سَوْفَ_. lafadz arab apaun jika didahului oleh lafadz _ سَوْفَ_ , maka 100% bisa divonis lafadz tersebut adalah fiil. okey ^_^

4.       berakhiran Ta ta’nits sakinah
lafadz yang diakhiri dengan ta ta’nits sakinah, maka kemungkinan besar lafadz itu adalah fiil. contoh
جَآءَتْ ـ قَالَتْ
3)       huruf
AWAS KETIPU !!!!, ada huruf yang independen ( tidak masuk bagian kalimat ) seperti huruf-huruf hijaiyyah. ada juga huruf yang merupakan bagian dari jenis kalimat juga. seperti huruf jar, huruf nasab dan huruf jajem. kenapa begitu sih, huruf jar, nasab dan huruf jajem dll, bisa dikatakan kalimat juga ???. karena eh karena. huruf tersebut masuk kriteria kalimat yaitu lafadz yang mempunyai arti. ingat!!, ingat !!! lafadz apapun itu, asalkan mempunyai arti berarti itu adalah KALIMAT. contoh
مِنْ dari : 
ثُمَّKemudian :


3.       Jumlah
Jumlah dalam bahasa arab adalah kalimat dalam indoensia. ingat!!! jangan bingung dan jangan galau. ingat perbedaan kedua istilah tersebut. jumlah dalam uslub bahasa arab terbagi dua bagian : jumlah ismiyyah dan jumlah Fi’liyyah

1)       Jumlah Ismiyyah
Jumlah yang diawali dengan isim. contoh
عَلِيٌّ مَرِييْضٌ

“ Ali sakit “. jumlah tersebut adalah jumlah ismiyyah. kenapa ???. karena, eh karena. jumlah tersebut diawali dengan isim yaitu, lafadz _ عَلِيٌّ _. Ali adalah isim. pasti tahu antum tahu alasannya! ^_^.

2)       Jumlah Fi’liyyah
Jumlah fi’liyyah adalah jumlah yang diawali dengan fiil. jumlah ini kebalikannya jumlah ismiyyah. jika ismiyyah diawali dengan isim, tetapi sebaliknya jumlah fi’liyyah diawali dengan lafadz fiil. contoh :
جَآءَ مُحَمَّدٌ
“ Telah datang Muhammad “
Jumlah datas adalah jumlah fi’liyyah. tahu alasanya???. yup betuuuuul !!!. kerena jumlah tersebut diawali dengan fiil yaitu lafadz _ جَآءَ _. pokoke!! jumlah apapun itu apabila diawali dengan fiil maka bisa dipastikan 1000% jumlah tersebut adalah jumlah fi’liyyah.

Sekarang ane ajukan pertanyaan, bagaimana apabila jumlah جَآءَ مُحَمَّدٌ _  dibalik menjadi _ جَآءَ مُحَمَّدٌ _  . apakah jumlah tersebut tetap kita vonis sebagai jumlah fi’liyyah ??????????. jumlah _ جَآءَ مُحَمَّدٌ _ bukan jumlah fi’liyyah lagi. tahu alasannya??. karena eh karena !! jumlah tersebut diawali dengan isim, yaitu lafadz _ muhammad _ So.. jumlah tersebut adalah jumlah ismiyyah. ingat jumlah yang diawali dengan fiil berarti itu adalah jumlah fi’liyyah. dan jumlah yang diawali dengan isim maka itu adalah jumlah ismiyyah. ^_^

Ingat sebelum berselancar lebih dalam kelautan Uslub bahasa arab. antum harus paham secara “ kaafah “ dulu  pembahasan ini. okey !

Sebuah Ikhtisor ( Ringkasan ) Agar Tidak Galau

1)       Pemabahsan pokok ilmu nahwu adalah :
1.       Huruf
2.       Kalimat
3.       Jumlah

2)       Huruf dibagi dua
1)       Huruf Ma’anie
2)       Huruf Mabanie

3)       Kalimat terbagi 3
1.       Isim
2.       Fiil
3.       Huruf

4)       Jumlah terbagi 2
1.       Jumlah Ismiyyah
2.       Jumlah fi’liyyah



“ Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, Maka Allah akan menjadikan segala urusannya menjadi mudah “



















JUMLAH


Pembahasan mengenai Jumlah

Jumlah dalam bahasa arab berarti "kalimat" di dalam bahasa Indonesia, yakni kalimat yang mempunyai faidah sempurna.

Contoh :

آمَنْتُ بِاللهِ                      (aamantu billah) = Aku beriman kepada Allah

أَعْطَي مُحَمَّداً لَبَننًا       (a’tho muhammadan labanan)  = Aku memberi Muhammad susu

Sehingga dari kalimat di atas, yang mempunyai predikat dan objek disebut juga dengan jumlah mufidah (
جملة مفيدة)atau kalimat sempurna.

Jumlah mufidah atau kalimat sempurna di dalam bahasa arab terbagi menjadi dua, yaitu jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah

1.    Jumlah ismiyyah adalah jumlah yang awal katanya berupa isim.

Contoh :

مُحَمَّدٌ نَبِيٌٌّ                 (muhammadun nabiyyun) = Muhammad adalah seorang nabi

اَلأُسْتَاذُُ مَرِيْضٌ     (al-ustaadzu mariidhun) = ustadz itu sakit



2.    Jumlah fi’liyyah adalah jumlah yang awal katanya adalah fi’il

Contoh :

جَاءَ مُحَمَّدٌ                (jaa a muhammadun) = Muhammad telah datang

رَجَعَ الأُسْتَاذُُ           (roja’al ustaadzu) = ustadz telah kembali

Ada jumlah yang sempurna, mengindikasikan adanya jumlah yang tidak sempurna , yang biasa disebut dengan sibhul jumlah (
شبه الجملة).

Sibhul jumlah merupakan susunan kata yang menyerupai jumlah atau bisa disebut juga kalimat tak sempurna. Sibhul jumlah terdiri dari dua macam, yaitu jer wa majrur dan dzorof wa mudhof ilaih

1.   
جَارٌ وَ مَجْرُوْرٌ        (jaarun wa majruurun)

Adalah susunan kata yang terdiri dari huruf jer dan isim

Contoh :

عَلَى السَّمَاءِ          (‘alassamaai) = di atas langit

 
مِنَ اللهِ                   (minallahi) = dari Allah

 
فِي السُّوْقِ            (fissuuqi) = di dalam pasar

2.   
ظَرْفٌ وَ مُضَافٌ إِلَيْهِ (dzorof wa mudhoofun ilaihi)

Adalah susunan kata yang terdiri dari kata keterangan berupa waktu atau tempat dan isim

Contoh :

أمَامَ المَنْزِلِ          (amaamal manzili) = di depan rumah

فَوْقَ البَيْتِ            (fauqol baiti) = di atas rumah

وَرَاءَ المَسْجِدِ       (warooal masjidi) = di belakang masjid

Pemahaman terhadap jumlah, memberi bekal kepada kita di dalam mengetahui makna suatu ayat atau hadist.  Karena perlu diketahui, perubahan kata, harokat, letak dan posisi kata dalam jumlah sangat mempengaruhi dalam pengartian dan pemaknaan suatu ayat. Salah dalam penempatan kata, salah pula maksud yang diinginkannya.

Sebagai contoh adalah apa yang ada di dalam al-qur’an surat al-a’rof : 180

وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى            (walillahil asmaa’ul husna)

Jika kita artikan secara per kata, maka artinya adalah “dan kepunyaan Allah nama-nama yang indah”.
Akan tetapi, jika kita memahami ayat di atas dengan kaidah-kaidah bahasa arab yang benar, kita dapat mengetahui bahwa ada yang kurang di dalam pengartian tersebut, dimana pengartian yang benar adalah “dan hanya kepunyaan Allah lah nama-nama yang indah”.
Perbedaannya ada pada kata “hanya”. Namun ini sangat fatal, jika dikatakan sesuai dengan pengartian yang pertama, bisa mengindikasikan adanya makhluk lain yang nama-namanya indah seperti nama Allah ta’ala, yang berarti mensejajarkan Allah dengan makhluknya di dalam nama yang indah.

Padahal maksud ayat ini tidak demikian, dimana hanya Allah lah yang mempunyai nama-nama yang indah, dan tidak ada yang menandingi bahkan sejajar dengan Allah walaupun dalam hal nama.
Sehingga dari hal ini, kita bisa mengambil pelajaran, jangan sekali-kali menggunakan nama yang khusus untuk Allah sebagai nama untuk anak-anak kita bahkan untuk hewan-hewan peliharaan kita, karena hal tersebut bisa termasuk penghinaan terhadap Allah ta’ala.
............

Contoh yang lain adalah kisah yang diutarakan oleh bapak ilmu nahwu pertama, Abul Aswad Adduali, dimana ketika ia sedang berjalan-jalan dengan anaknya di malam hari, sang anak terlihat menghadapkan wajahnya kelangit seraya berkata :

مَا اَحْسَنُ السَّمَاءِِ      (maa ahsanus samaa’I ??) = apa yang bagus dilangit ??

Maka sang ayah pun menjawab:

نجومها                       (nujuumuha) = bintang-bintangnya

Mendengar jawaban itu, sang anak menyanggah dengan mengatakan “aku tidak bermaksud bertanya, melainkan menunjukkan kekaguman”.

Lalu sang ayah berkata “klo begitu ucapkanlah

مَا اَحْسَنَ السَّمَاءَ       (maa ahsanas samaa’i) = betapa indahnya langit-langit

Dari kedua contoh ini, sangat jelaslah manfaat kita mengetahui berbagai kaidah di dalam bahasa arab salah satunya dalam pembahasan jumlah. Adapun untuk pembahasan mengenai alasan pengartian dan pembacaan dari kedua contoh di atas, insyaAllah pada pembelajaran selanjutnya.